Month: August 2016

Dokter Mesin


Seorang Manusia bisa mengalami sakit. Begitu pula sebuah mesin. Seorang ketika sakit akan merasakan perubahan pada tubuhnya, misal badan jadi panas, kepala pening, lemas dsb. Itu juga yang terjadi pada sebuah mesin. Ketika mesin dalam kondisi “sakit”, maka mesin akan mengalami perubahan paramater misalnya suara yang mesin yang bergetar dari biasanya, temperatur mesin yang naik dsb. Bedanya manusia masih bisa merasakan bahwa kondisinya sedang tidak baik sedangkan mesin tidak. Mesin yang sakit itu seperti istri yang lagi ngambek yang cuma bisa ngasih kode doang dan gak mau ngomong (wkwkwk).

Untuk menjaga kehandalan (reliability) mesin, maka mesin tersebut harus dilakukan perawatan (maintenance). Berdasarkan urgensinya, perawatan mesin dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Yang pertama adalah corrective maintenance yaitu perawatan perbaikan terhadap mesin yang terjadi kerusakan. Jadi jika mesin rusak lalu diperbaiki. If it ain’t broke, don’t fix it. Jadi perbaiki kalo rusak aja, kalo gak rusak tetap lanjut operasi.

Yang kedua adalah preventive maintenance (PM). PM itu perawatan berdasarkan calendar based atau perawatan berkala. Fungsi PM adalah untuk mencegah degradasi dan menjaga performa mesin sesuai desain vendor pembuat. Umumnya, setiap mesin sudah dibekali manual book untuk preventive maintenance. Misalnya harus ganti filter sekian jam operasi, ganti oli sekian jam operasi ataupun harus turn around (overhaul) setiap jam operasi. Kalo PM pada manusia misalnya adalah olahraga rutin, minum air 8 gelas sehari dsb.

Yang ketiga adalah predictive maintenance (PdM). Nah disini peran seorang engineer maintenance yang mirip kerja dokter. Seperti yang dibahas di awal, mesin yang sakit atau akan sakit pasti akan mengalami perubahan. (Misalnya mesin jadi lebih sensitif…ini mesin apa cewek yang lagi PMS *abaikan*). Perubahan itulah yang harus kita catat dan kita analisis. Apakah perubahan itu masih normal atau mengarah pada kerusakan mesin.

Jadi kita harus bisa mengukur semua informasi yang berkaiatan dengan kondisi mesin baru kita bisa mendiagnosanya. Untuk mengetahui perubahan kondisi dari waktu ke waktu maka kita harus mengukur dan mencatatnya secara berkala. Oleh karena itu prinsip PdM disebut juga condition monitoring.

Pada mesin rotating umumnya paramater yang dimonitoring adalah pressure, temperatur, kualitas pelumas, dan vibrasi. Kalo kita biasanya check gula darah, kolesterol, asam urat untuk tahu kondisi tubuh kita.

Bagian yang paling penting dan mirip dengan dokter adalah ketika melakukan diagnosa. Semua data perubahan parameter tadi diolah, dilakukan trending dan didiagnosa. Seorang dokter mesin kemudian akan memberikan rekomendasi terhadap mesin tersebut. Misalnya mesin normal dan dapat dilanjutkan operasi, mesin tidak normal tapi masih dalam kondisi wajar dan perlu penanangan segera, atau mesin tidak normal dan harus distop karena akan terjadi kerusakan fatal jika terus dioperasikan.

Dalam pengalaman menulis, penulis dapat mengetahui apakah kondisi mesin tersebut masih baik atau tidak. Tidak hanya itu, ketika mendiagnosa seorang dokter mesin dapat mengetahui akar masalah (root cause) dari kerusakan itu. Misalnya mesin tersebut mengalami misaligment, loosness pada struktur, atau kerusakan pada bearing. Dari hasil diagnosa itu seorang dokter mesin akan memberikan rekomendasi apa yang harus dilakukan agar kehandalan mesin tetap tinggi.

Jadi kamu bisa panggil saya dokter mesin hehe…

 

 

 

 

Kamu tipe bos mana? 

Masih dalam rangka membiasakan untuk menulis di blog. Kali ini mau sharing tentang salah satu peran pemimpin/pimpinan/boss di dalam sebuah perusahaan. 

Inspirasi tulisan ini saya rekam dari sejak mengikuti organisasi di sekolah hingga sekarang di perusahaan. 

Dari sekian banyak karakter bos yang saya temui, ada dua yang ingin saya bagi yaitu dari dua sisi yang paling ekstrem. Boss tipe pertama adalah Boss yang seperti konduktor musik. Yang kedua adalah tipe penghisap. 

Buat yang ketemu bos tipe penghisap, maka saran saya adalah segera cari bos lain. Bos tipe ini hanya akan menghisap apa yang kamu punya, tenaga waktu dan pikiran. Dan jangan harap kamu bisa berkembang. Di mata dia kamu hanya instrumen kerja seperti mesin yang akan terus dituntut produksi dan efisien. 

Nah sisi ekstrem berikutnya adalah bos yang seperti konduktor musik. Bos tipe ini akan menempatkan orang sesuai dengan kemampuan dan passionnya. Orang yang jago piano ya disuruh main piano bukan malah disuruh main gitar, misalnya. Jadi kamu bakal merasa bekerja sesuai bidang kamu. 

Saya pernah punya bos yang selalu bilang, pencapaian terbesar organisasi kita bukan pada suksesnya acara atau kegiatan tapi ketika orang orang yang terlibat di dalamnya bisa berkembang. Bos saya yang satu ini punya rutinitas untuk mencari tau potensi potensi yang dimiliki anak buahnya. Bahkan dia sampe punya rincian kebiasaan anak buahnya. 

Nah, buat kamu yang mau jadi bos jadilah bos yang memberdayakan bukan yang memperdaya. Hajaaaarrrrr

Dicemplungin, lalu belajar

index
Percobaan Operating Deflection System (ODS), salah satu metode analisa vibrasi

Sudah lebih dari 2 tahun saya bekerja di tempat ini. Suka duka, mood naik turun itu sudah biasa. Kenangan manis dan kenangan pahit rasanya sudah pernah saya alami semua. Ada yg berbekas ada yang berlalu begitu saja. Dari sekian banyak kisah itu, ada satu value yang menjadi budaya di tempat kerja saya yaitu kalo diberi tantangan, ambil dan kerjakan.

 

Kalo orang belajar berenang nyemplung dulu baru belajar renang.

Disini, jangan harap kamu bisa nolak. Menolak berarti kamu menyiakan kesempatan belajar. Yang akhirnya malah gak dipercaya dan gak kepake.

Saya ambil contoh, ketika pak boss menawarkan untuk ikutan training vibrasi di luar negeri. Kalo dulu saya nolak dengan alasan belum berani, belum pernah keluar negeri, belum paham konsep vibrasi, takut ujiannya gagal dsb dsb, mungkin sekarang orang lain yang sudah berangkat. Dan yang paling penting adalah saya menyiakan kesempatan belajar.

Termasuk ketika pertama kali mengambil data vibrasi. Buta lapangan, belum banyak pengalaman, megang alat masih grogi, terus presentasi di hadapan klien, kalo saya hanya liat itu saja mungkin saya tidak akan pernah jadi Engineer vibrasi.

Memang metode pembelajaran seperti ini cukup berisiko. Misal, klien yang tidak puas dengan pekerjaan kita. Atau kalo blunder bisa jadi fatal dan merugikan perusahaan.

Namun, metode ini cukup efektif. Itu yang saya liat dari beberapa rekan kerja saya.

Manusia pada umumnya punya senjata rahasia ketika keadaan terdesak. Ia akan berusaha sekuat tenaga untuk bertahan hidup dan mempertahankan diri. Dikasih bumbu penyebab komplain dari klien bisa menambah usaha makin keras.

Setelah dicemplungin itu,kita jadi belajar agar tidak tenggelam lagi. Atau paling tidak, tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Kesimpulannya, ini jadi metode belajar yang efektif di perusahaan kami. Dan menjadi value yang akan diingat terus. Paling engga, harus ingat komplain klien haha. Inget untuk dijadikan motivasi untuk membuktikan bahwa kita layak mendapatkan apresiasi dan applause suatu saat nanti.

Sekian.

Respon kita, itu yang Allah nilai

Respon kita, itu yang Allah nilai

Selepas sholat maghrib, saya mengajak istri untuk berbagi seputar hidup dan kehidupan. Saya memberikan contoh kasus tentang orang yang sedang ditimba musibah dan orang yang sedang diberi nikmat bahagia.

“Sayang”, saya mencoba mulai menjelaskan. Kedua kasus yang Aa (panggilan istri kepada saya) sebut tadi tidak hendak menjelaskan kasus mana yang lebih Allah sukai. Orang yang diberi nikmat bahagia belum tentu orang yang lebih Allah sukai. Pun, dengan kasus orang yang sedang ditimpa musibah belum tentu Allah tak suka dengannya.

Bisa jadi Allah lebih menyukai orang yang sedang ditimpa musibah dibandingkan dengan orang yang sedang diiberi nikmat bahagia. Persoalannya bukan pada apa yang menimpa mereka, tapi bagaimana respon mereka itu yang penting.

Misal, orang yang ditimpa musibah menjadikan dirinya lebih dekat dengan Allah. Ia introspeksi diri, bermuhasabah bahwa selama hidupnya ia banyak lalai dan meninggalkan kewajiban. Ia merespon musibah yang ditimpanya dengan menjadi pribadi yang lebih takwa.

Sebaliknya, orang yang sedang diberi nikmat bahagia malah menjadikannya kufur nikmat. Tidak mensyukuri nikmat yang telah Allah berikan. Ia berfoya foya dalam hidup, meninggalkan kewajiban dll. Ia merespon nikmat bahagia dengan menjadi kufur nikmat.

Dalam hidup ini kita pasti akan mengalami musibah dan nikmat. Keduanya akan silih berganti menghampiri kehidupan kita. Tak perlu cemas, karena itu sesuatu yang alami. Itu hanya sebentuk ujian yang berikan terhadap kita hambaNya. Yang paling penting adalah bagaimana cara kita meresponnya.

Jadi, jangan cemas terhadap musibah yang menimpa kita ataupun jangan lalai dengan nikmat yang kita dapatkan, cemaslah ketika respon yang kita  berikan malah semakin menjauhkan kita dari ridhoNya.

Arjawinangun, 7 Agustus 2016

Halaqoh dengan istri tercinta, Dhea Dezhita.