Latar Belakang Kaderisasi

Secara umum sebuah organisasi yang dinamis membutuhkan adanya regenerasi untuk menjalankan dan mengembangkan aktivitas organisasi tersebut. Regenerasi berarti pembauran semangat dan tata susila. Dalam menunjang hal tersebut dibutuhkan SDM yang sesuai dengan visi organisasi yang akan ia masuki. Namun demikian, orang-orang yang akan menggantikan tersebut belum tentu memenuhi kriteria yang diharapkan. Oleh karena itu diadakan sebuah proses sehingga para regenarator itu siap untuk menjalankan dan mengembangkan organisasi itu. Proses itu dinamakan kaderisasi.

Kaderisasi atau pengaderan sendiri berarti proses, cara, perbuatan mendidik atau membentuk seseorang menjadi kader. Tinjauan secara etimologis, kata kader merupakan kata serapan yang berasal dari kata Prancis cadre yang bermakna harfiah/leksikal (a) daftar, (b) pangkat bintara dalam militer yang menjelma sebagai kata cadre dalam bahasa Inggris yakni individu sebagai bakal calon dari warga perkumpulan, organisasi yang dilatih untuk menduduki posisi yang penting dan sinonim dengan kata Belanda kader. Berdasarkan makna denotasi/arti lugasnya, pengertian kader adalah seseorang yang statusnya bebas belum mempunyai suatu ikatan formal yang absah dengan organisasi. Jadi, kader organisasi bermakna bakal calon untuk memasuki suatu organisasi : orang yang bersangkutan belum tercatat menjadi anggota organisasi.

Berlawanan dengan kata serapan kader yang bersumber dari bahasa asing, kata anggota bukan kata serapan, melainkan kata Melayu/kata Indonesia yang diterangkan W.J.S. Poerwadarminta yaitu : 1. anggota tubuh (terutama tangan dan kaki); 2. bagian daripada sesuatu yang berangkaian, misalnya kata majemuk matahari dua anggotanya; 3. orang (badan) yang menjadi bagian atau masuk dalam sesuatu golongan (perserikatan, dewan, panitia, dsb), misalnya anggota kalimat, __ kerhormatan __ tentara, kartu anggota, rapat anggota, dsb. (Kamus Umum Bahasa Indonesia, cetakan ketiga, Balai Pustaka, Djakarta, 1961 : 44). Dijabarkan makna anggota organisasi adalah seseorang yang secara resmi tercatat menjadi warga organisasi, memiliki kartu anggota terikat dengan disiplin, hak/kewajiban anggota organisasi. Dia tidak lagi bebas seperti kader.

Sejalan dengan hal itu Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) juga memerlukan adanya regenerasi. Konsekuensinya HMM harus menjalankan proses kaderisasi tersebut. Dalam buku biru HMM disebutkan pada Anggaran Dasar Bab III pasal 8 tentang keanggotan HMM. “Anggota Muda, Anggota Biasa, dan Anggota Luar Biasa”. Pada Anggaran Rumah Tangga HMM ITB bab I tentang Keanggotan disebutkan bahwa “Anggota Muda HMM ITB adalah mahasiswa yang secara sah tercatat sebagai Mahasiswa S1 teknik Mesin dan yang belum atau sedang menjalani mekanisme untuk menjadi Anggota Biasa HMM ITB”. Mekanisme itu yang kita sebut sebagai kaderisasi.

Panitia Machining 2009 HMM ITB

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s