Month: October 2009

Sebuah pengantar : Menuju Tranformasi IDA Taman Sari

Banyak ekspektasi di kepala saya ketika menuliskan kata transformasi. Paling tidak kata ini sanggup mendorong saya dalam lautan malam yang sunyi untuk kemudian meluapakn ekspektasi itu dalam tulisan singkat ini. Baikalah saya mulai saja diskusi ini dengan menganalisis problem-problem utama yang sekarang dihadapi IDA Taman Sari.

Menganalisis sebuah sesuatu tentu harus melihat dari sisi internal maupun eksternalnya. Tidak etis bagi saya mengomentari IDATaman Sari dengan sudut pandang intrenal karena toh saya tidak pernah terlibat langsung dengan agenda-agenda di IDATaman Sari. Dan sudah barang tentu apa yang saya sampaikan akan sedikit berbeda dengan temen2 yang sudah pernah/lama mendedikasikan diri di IDA. Insyaallah apa yang saya curahkan ini bisa bermanfaat bagi IDA dan masyarakat Indramayu kedepannya.

Berikut beberapa analisis permasalahan yang bisa saya share :

  1. Terlalu konservatif

Yang saya amati pertama kali organisasi ini,baik pusat maupun komisariat,terlalu terpaku dengan rutinitas yang membosankan. Saya belum melihat visi besar yang ingin dicapai organisasi ini. Inget tiap orang punya impian besar,jdi jangan cuma jadi eksekutor.

2. Kontaproduktif

    Ini masih berkaitan dengan yang pertama. Oganisasi ini terlalu terpaku dengan kebiasaan2 lama sehingga ini sulit berkembang. Saya tidak pernah mendengar program-program besar yang bermanfaat yang telah dicapai oragnisasi ini. Yang saya kumpul buka bareng!

    3. Intervensi dari luar

      Sudah jadi rahasia umum kalau organisasi daerah menjadi alat kampanye penguasa. Memang dilema,jika kita tidak ‘manut’ pada penguasa itu kita bakal seret keuangan. Tentu ini harus didiskusikan lenih jauh.

      4.  Pemimpin yang tidak punya pengaruh besar

        Sebagian besar mahasiswa ITB di Indramayu tidak tahu siapa ketua IDATaman Sari. Dibutuhkan seorang pemimipin yang berpengaruh besar untuk melakukan perubahan besar. Jangan cuma bebek!

        5.  Komunikasi yang salah arah

          Dalam mengkomunikasikan program2 salah jika kita menganggap anggotanya Cuma sebagai objek.

          Nah itu yang bisa saya share sekarang. Sekali lagi ini dari kacamata eksternal. Jadi wajar apa yang saya sampaikan ini bukan masalah teknis. Tentu dari intrenal pasti lebih tahu tentang masalah2 teknisnya.

          Semoga ekspektasi saya tentang trasformasi IDA berbuah manis.

          Wirana

          Mesin ITB 2008

          Cerita Seorang Anak Nelayan

          Cerita Seorang Anak Nelayan

          Di derah yang dekat dengan pusat Kabupaten Indramayu Ia lahir dan dibesarkan. Berasal dari keluarga nelayan Ia berwatak keras tipikal orang pesisir. Maka ketika dia telah meng-azzamkan sesuatu susah buatnya untuk mundur. Termasuk ketika Ia bercita-cita jadi Insinyur,orangtuanya yang hidup pas-pasan hanya bisa mendoakan. Yang penting kehidupannya harus lebih baik. Itu yang orangtuanya tanamkan.

          Cita-citanya dimulai dari Sekolah Dasar.  Tiap hari kecuali hari minggu dan libur Ia melangkahkan kaki menuju SDN Paoman 7 (sekarang berganti nama menjadi SDN Margadadi 7) untuk menuntut ilmu. Tidak ada yang menonjol selama kelas 1 sampai kelas 2,setelah kelas 4mulai ada yang dibanggakan. Setidaknya Ia sering mendapat hadiah uang karena nilai ulangan 100 untuk pelajaran matematika dan yang nialinnya dibawah 50 harus membayar.  Sistem ini Gurunya lakukan agar terjadi peningkatan prestasi murid-muridnya, yang lebih pintar akan tertarik dengan hadiahnya sedangkan yang kurang pintar (bodoh!) berusaha agar terbebas membayar. Menginjak kelas 4 kepintaraannya mulai tampak. Kalau saja nilai agamanya tidak 6 dia yang menjadi rangking 1. Dia tidak tahu kenapa nilai agamanya bisa serendah itu,biasanya ia menadapat 8 atau minimal 7. Ia teringat kalau dirinya pernah dihukum gara-gara berkelahi dan ribut di kelas. Ia berpikir mungkin gara-gara itu. Kelas 4 caturwulan 3 untuk pertama kalinya Ia menempati rangking 1 dikelas. Sejak saat itu Ia selalu mendapat rangking 1 hingga lulus SD dengan NEM tertinggi. Sebenernya kenapa Ia berusaha keras mendapat rangking pertama.

          Berbekal NEM itu Ia mendaftarkan diri di SMPN 2 Sindang. Saat itu sistemya masuk SMP baru saja berubah dari NEM ke sistem tes tulis. Ia lulus tes dengan peringkat 14 dari 240an yang diterima di SMP. Sewaktu SMP ia sempet minder karena saingannya kini jauh lebih hebat. Seiring berjalannya waktu Ia mulai menemukan dirinya lagi bahkan Ia tremasuk sangat berpengaruh di kelasnya dalam pelajaran khususnya yang eksak juga dalam bermain bola. Ketika itu pengumuman nilai ulangan matematika yang kebetulan gurunya juga wali kelasnya,dan Ia mendapat nilai tertinggi di kelas dengan nilai 100. Ia menutup Kelas 1 dengan memborong rangking 1 dalam 2 semester. Di kelas 2 dan kelas 3,ia mendapat saingan yang berat,seorang cewek!. Di semester peertama Ia harus rela hanya mendapat rangking 1 ke 2. Bahkan setelah itu cuma mendapat rangking 2.

          Ia,dan dua orang rekannya terpilih sebagai wakil dari SMP 2 Sindang untuk lomba cepat tepat. Tugas pertama mereka harus lolos tingkat rayon. Di tingkat rayon Tim itu mendapat perlawanan berat dari BPK Penabur hingga harus ada pertanyaan tambahan yang menentukan. Tuan Rumah SMPN 1 Indramayu secara spontan mendukung tim 2 Sindang krena tim mereka dikalahkan BPK Penabur. Juri membacakan soal tentang aplikasi Phytagoras,yaitu jika tinggi tangga yang bersandar pada tembok 3 meter dan lebarnya  4 meter,berapa panjang tangga itu.??Spontan ia dan timya penjet bel dan menjawab 5 meter. Ia dan timnya pun melaju ke putaran final yang diadakan di SMPN 1 Kandanghaur. Saat itu ada 5 tim yang lolos ke putaran final termasuk tuan rumahnya. Seperti yang telah diprediksi saingan berat datang dari tuan rumah.  Blunder-blunder yang dilakukan tuan rumah membuat poin timnya di atas angin. Pertarungan menarik terjadi di posisi 3 dan 4 antara Sukagumiwang dan Balongan bahkan jurinya sampai ngomong gini kalo Sukagumiwang sudah ngamuk yang menunjuk bahwa perolehan poin Sukagumiwang terus naik. Hingga lomba selesai Ia dan timnya tak terkejar lagi dengan nilai 1500an sedangakan tuan rumah di peringkat kedua dengan nilai kurang dari 1000,tempat ketiga menjadi milik Sukagumiwang.

          Ia lulus SMP nilai Matematika sesuai target 10 di raport kelas tiga semester 1 dan 2 juga nilai UN….